Ayah dan Ibu
Hallo teman-temen……
Mungkin di blog aku kali ini, saya akan membahas tentang dua insan yang sangat saya cintai dan sayangi. Yaitu kedua orangtua saya….
Oo iya, mungkin saya meminta izin kepada kalian semua untuk memperkenalkan diri saya untuk kesekian kalinya, tidak apa-apa agar kalian bisa mengenal saya lebih jauh dan mungkin bisa menjadi lebih akrab dengan saya….
Nama saya Syarif Ridho Baihaqi Asseggaf, biasanya saya dipanggil dengan berbagai macam panggilan.Namun keingginan dalam hati saya terdalam ingin dipanggil "Ridho" saja (kecuali jika saya merasa nyaman dan tenang dengan panggilan-panggilan lain tersebut).
Sebenarnya saya merasa agak bersalah jika membahas kedua orang tua saya, menggingat saya hanya masih menjadi beban bagi mereka, dan jujur dalam hati terdalam ingin sekali membagiakan mereka. Namun, terkadang munculnya banyak masalah dalam hidup saya sehingga saya membuat orang tau saya.
Baiklah tanpa panjang lebar, pada blog saya kali ini, saya akan menceritakn sebuah biografi tentang kedua orang tua saya yang sangat berarti dan berharga dalam kehidupaan saya, dua insan yang sangat saya cintai dan sayangi.
Dalam kehidupan pasti kita sebagai manusiawi pasti mempunya rasa kagum dan rasa menyayangi seseorang,Nah,begitu juga dengan diriku,aku sangat menyayangi dan mengagumi kedua orang tuaku.Mereka merupakan harta yang sangat berharga yang aku miliki,sebagaimana mereka adalah penyemangat,dan kekuatan dan alasan aku bisa bertahan sampai sekarang.
IBU
Ibu saya bernama Ii Sulastri, Ibu saya memiliki wajah oval, hidung pesek ke luar, berkulit hitam manis, rambut hitam panjang, dan pipi chubby.
Ibu saya lahir pada tanggal 5 maret 1974, dan lahir kota serimbu. Ibu saya adalah lulusan D3 jurusan ekonomi, namun ibu saya berhenti karena ayah saya mengajak dia menikah. Namun dia binggung untuk mengambil keputusan. Dan akhirnya bertanya kepada kakek saya. Kakek saya menyarankan ibu saya untuk menikah dengan ayah saya dikarenakan Ayah saya sudah Menjadi Pengawai Negeri Sipil, yang bisa dibilang Ibu saya tidak perlu bekerja atau melanjutkan kuliahnya lagi. Karena Ibu saya penurut dengan orangtuanya, maka Ibu saya memilih menikah dan meninggalkan kuliahnya
Dulu ketika saya masih kecil Saya pernah diceritakan tentang kisah masa kecil ibu saya. Ketika ibu saya masih kecil, Ibu saya dulu hidupnya bisa dibilang seperti kehidupan orang zaman dulu orang dulu, gimana kalau ingin boneka mereka membuatnya dengan menggunakan sebuah kain atau benda-benda yang berada disekitar mereka sekitar lingkungannya.
Dan juga Ibu saya pernah cerita sama saya, Dari Sekolah Dasar ibu saya kalau dikelas selalu ranking 2 atau 3 dikelasnya, bahkan sampai dia lulus dari Sekolah Menenggah Atas.
Dan Diceritakan bahwa ibu saya orangnya pada masa kecil itu rajin, suka membantu, dan sopan santun. Yang paling menarik ketika nenek saya pernah cerita bahwa ibu saya sering biasanya ke tempat ternak dan Tani milik kakek saya.
Ibu saya merantau Sekolahnya, Sekolah Dasar sampai ibu saya Sekolah Menenggah Pertama (SMP) di kota ngabang, dan Sekolah Menenggah Atas (SMA) di kota pontianak
Dan yang paling paling menyebabkan saya jadi sering makan dikarenakan, ibu saya Dulu sering jajan atau membeli nasi goreng ketika di sekolah. Bahkan sampai Ibu saya menikah dan dan ketika hamil anak pertama yaitu saya dia pun malah ngidam makan nasi goreng terus.
Ibu saya sekarang telah berusia sekitar 40-an, bisa dibilang ibu saya sudah hampir tua dikarenakan makin bertambahnya umur beliau, dan juga beban atau lelah tubuh karena pekerjaan selama berada di rumah.
Ibu saya selalu bangun awal untuk salat tahajud yang tidak pernah dia tinggalkan, dan membaca ayat-ayat suci Alquran sambil menunggu adzan subuh berkumandang. Setelah dia melaksanakan mengaji dan salat subuh, ibu saya ya langsung melaksanakan pekerjaan rumah seperti biasanya yaitu mencuci piring, menyapu, menyiapkan hidangan sarapan pagi, membangunkan membangunkan kami yang masih tertidur, dan berbagai pekerjaan pekerjaan rumah lainnya.
Saya merasa agak tidak nyaman Kepada beliau dikarenakan saya selama di rumah hanya melakukan hal-hal yang mungkin bisa dibilang tidak bermanfaat walaupun saya mengerjakan banyaknya pekerjaan tugas-tugas kampus yang menumpuk, seperti halnya bermain video game, menonton streaming YouTube, membuka sosial media dan berbagai hal ya hal yang tidak bermanfaat lainnya.
Yah jujur Ketika saya masih kecil tempat curhatan saya adalah badai Ibu saya sendiri dikarenakan saya dulu sekolah selalu selalu dibully dan diperlakukan berbeda dengan kawan saya sehingga saya dulu curhat hanya kepada ibu saya. Dan juga Ibu saya penyemangat hidup saya, dikarenakan saya ketika sudah Wah jatuh dengan berbagai bully-an dan pekerjaan sekolah, Ibu saya tetap tidak menyerah dalam support dan mendukung saya ya walaupun saya mengalami keadaan terpuruk dalam hidup
Memang jasa seorang ibu tidak bisa saya lupakan, walau dengan berbagai apapun kebaikan yang saya berikan kepada kepada ibu saya, itu tidak akan pernah cukup untuk membalas segala kebaikan kan yang yang telah dia berikan. Dan saya ingin membahagiakannnya.
Ayah
Ayah saya bernama Syarif Mussadiq, ayah saya memiliki wajah bulat, hidung pesek ke luar, berkulit hitam , rambut hitam, dan pipi chubby.
Ayah saya lahir 15 juli 1971, lahir kota sepatah. Saya pernah diceritakan masa kecil Ayah saya itu benar-benar masa perjuangan dan kehidupan berat. Dimana ayah saya dulu seorang yang pada masa kecil hidup dengan berbagai cobaan. Dikarenakan ayah saya terlahir dari keluarga miskin. Dulu ayah saya masih kecil kalau mau makan ikan atau mau makan saja harus mencari di sungai. Ayah saya bukan tinggal ambil saja ikannya di sungai, tetapi Ayah saya harus menunggu selama 1 jam atau lebih hanya untuk dapat ikan. Dan juga makan nasi saja susah.
Namun saya pernah dengar ceritanya,
kalau ayah saya itu orangnya pintar dikelas, Dari Sekolah Dasar ayah saya selalu mendapat ranking 1 di kelas nya, bahkan sampai ayah saya telah lulus Sekolah Menenggah Atas.
Dan juga ayah saya ingin melanjutkan Sekolah Menenggah pertama (SMP) terpaksa merantau ke luar. Dikarenakan Sekolahnya hanya sampai Sekolah Dasar (SD). Maka Beliau merantau untul melanjutkan pendidikannya. Dikarenakan Ayah saya orangnya tidak mampu atau kurang berkecupan, maka ayah saya terpaksa merantau dan tinggal di rumah bibinya
Ayah saya kalau di sekolah orangnya mudah juga dalam pergaulan, bisa dibilang ayah saya sifatnya paling stabil.
Ketika Ayah saya sudah lulus Sekolah Dasar, ayah saya pindah ke ibu kota kalimantan barat yaitu pontianak. Dan Sekolah Menenggah Atas (SMA) nya di Kota ngabang.
Sebenarnya banyak Sejarah ayah Ayah saya dan Ibu saya, namun saya binggung ceritakannya darimana. Namun, mereka pernah saling mengetahui dari saudara atau keluarga mereka yang ternyata agak saling kenal dan agak akrab.
Sebelum mereka menikah, yah jujur sih agak merasa kasihan dan geli sendiri ketika ibu saya pernah cerita waktu ibu saya ngomong dengan pria lain dan ayah saya cemburu, dan bilang ke ibu saya untuk tidak ngomong dengan pria tersebut dikarenakan kecemburuan ayah saya. Memang sih, siapa juga kekasih pujaannya di ajak bicara orang lain haha.
Ayah saya selalu mengajarkan saya untuk menjadi orang yang bertanggung jawab, dan menerima segala konsekuensi perbuatan walau saya agak masih manja dengan ayah saya, misalnya ketika saya merusak baju teman saya, jujur ayah saya langsung bantu beli baju buat teman saya, tapi sebenarnya saya merasa agak tidak nyaman ayah saya pada hari tersebut karena saya yang salah, ayah saya jadi yang harus menggantinya. Namun karena saya tidak ada uang, yah saya agak terpaksa minta tolong ayah saya.
Ayah saya selalu pengen saya bantu ayah saya, misalnya mengurus kandang ayam kesayangannya yang ada dibelakang rumah. Namun saya tidak mau dan tetap melanjutkan bermain video game kesukaan saya. Tapi ayah tetap sabar, dan menyuruh saya menjaga warung yang ada di depan rumah. Saya melaksanakan ketika saya di posisi tidak terngangu. Jujur mengingat hal ini membuat saya tidak nyaman dengan beliau (ayah saya). Terima kasih ayah.
Yaps itu saja penjelasan biografi dan perjuangan orangtua saya, bagi saya mereka pahlawan tanpa tanda jasa, yang rela memberikan kebaikan yang mungkin atau bahkan tidak bisa saya berikan kepada orang tua saya
Mereka berdua adalah seorang yang menjadi panutan, contoh untuk diriku, mereka lah yang menjadi alasan mengapa aku bisa berada di sini pada saat ini.
Dan pengajaran mereka juga yang mengajarkan ku untuk tetap bersyukur apa pun keadaannya,dan tidak lupa mereka selalu mengingatkan ku untuk selalu beribadah kepada Allah terutama shalat fardhu 5 waktu.
Aku bermimpi atau berharap semoga suatu saat kami sama2 masuk dan menuju surga –NYA.
Semoga Allah selalu melindungi mereka dimanapun mereka berada kapanpun itu dan selalu memberikan kesehatan dan meridhoi apapun setiap langkah mereka.
Mungkin sekian saja dari saya, kurang lebihnya mohon maaf, yang sempurna hanya Allah S.W.T. , dan kita manusia hanya mahkluk biasa. Wassaalamualaikum W.R.B






